Browse » Home » All posts
[Tarian Gandrung]
Gandrung
adalah sebuah kesenian tarian tradisional Banyuwangi yang dapat dikatakan
sebagai ibu dari kesenian-kesenian yang
terdapat dibanyuwangi, karena beberapa kesenian yang terdapat di banyuwangi
banyak yang di pengaruhi oleh kesenian Gandrung. Tidak ada catatan kapan
kesenian gandrung ini lahir di Banyuwangi, dari beberapa catatan kemudian bahwa
semi sebagai gandrung wanita yang pertama mulai menarikan tari gandrung pada
usia 10 tahun pada tahun 1895, kemudian dari catatan lain sebelum semi sudah
ada tarian gandrung yang disebut gandrung lanang. Lanang yang artinya
laki-laki, berarti tari gandrung yang ditarikan oleh penari laki-laki namun
dengan kostum perempuan.
Gandrung dinilai negatif , dikarenakan dalam gandrung ada proses dimana tahapan pacu gandrung, karena penari di haruskan melayani semua tamu, kadang - kadang di luar norma, seperti mencium, memegang. Sehingga penyajian dari gandrung itu sendiri menjadi tidak pantas, karen inilah menurunnya apresiasi dari masyarakat dan penari penerus gandrung.
Upaya maksimal harus di lakukan untuk melestarikan tarian ini,Seniman , Budayawan serta penikmatnya , minimalnya tarian ini masih dinikmati oleh masyarakat kini.
Browse » Home » All posts
[LET ME IN]
Owen,
berusia dua belas tahun sering disiksa oleh teman-teman sekelasnya dan
diabaikan oleh orangtuanya yang telah bercerai. Kesepian, Owen menghabiskan
hari-harinya merancang balas dendam kepada para penyiksanya di sekolah dan
malam hari ia memata-matai apartemen lainnya.
Satu-satunya
teman baru Owen, Abby, gadis cilik penyendiri tinggal bersama ayahnya.
Abby selalu muncul hanya pada malam hari dan selalu bertelanjang kaki, nampak
kebal terhadap suhu dingin. Keduanya merasa terasing, Owen dan Abby membentuk
sebuah ikatan yang unik.
Ketika serangkaian pembunuhan
mengerikan terkadi di kota tersbeut, ayah Abby menghilang, dan ia harus mengurus
dirinya sendiri. Bantuan Owen selalu ia tolak dan perilaku Abby semakin aneh
menyebabkan Owen mencurigai Abby sedang menyembunyikan sesuatu.
Pesan Moral :
"Coming Soon"
Browse » Home » All posts
[My Name is Khan]
Risvan
Khan datang ke Amerika untuk menemui saudaranya dan bekerja disana. Sejak lahir
ia menderita Asperger Syndrome, salah satu bagian autis yang mengakibatkan
ganggunan untuk berinteraksi social. Dengan bantuan saudaranya tersebut,
akhirnya dia dapat diterima di perusahaan kosmetik. Mandira merupakan sosok
wanita hindu India yang dapat berkarir cukup bagus di negeri paman Sam. Dia
membuka sebuah salon kecantikan di pusat kota San Fransisco. Mandira sudah
bercerai dengan suaminya dan memiliki seorang anak bernama Sameer. Sebuah
kebetulan akhirnya mempertemukan Khan dan Mandira ketika Khan menawarkan
produk-produk kecantikanya kepada salon Mandira. Cerita pun berlanjut akhirnya
mereka menikah dan hidup bahagia.
Selama kurang lebih 1 jam pertama, alur cerita berjalan cukup lambat dan membosankan. Tipikal film India dengan nyanyian dan tarianya yang khas mewarnai 1 jam pertama tersebut. Alur berubah ketika mencapai pertengahan film dan memasuki inti cerita. Adalah peristiwa 9/11 yang kemudian memunculkan stigma anti Islam di seluruh penjuru Amerika. Pria berjenggot panjang ditangkap dan kemudian dipukuli, sementara yang lainnya memilih mencukur habis jenggotnya untuk menyamarkan identitas kemuslimannya. Seorang wanita rela melepas jilbabnya agar dapat terus bekerja. Hal senada juga melanda kelurga kecil Khan dan Mandira. Sameer Khan, anak mereka yang telah tumbuh remaja dihina, dan kemudian dipukuli hingga meninggal. Peristiwa tragis ini membuat Mandira menyalahkan Khan karena telah menikahinya dan menambahkan embel-embel Khan dibelakang nama Sameer. Akhirnya Khan meninggalkan rumah dan berjanji tidak akan pulang sampai ia berhasil menemui presiden Amerika dan berkata bahwa ia seorang muslim tapi bukan teroris.
Pada titik ini, film mulai berjalan menarik dan enak untuk diikuti. Cerita ketika Khan berkali-kali berupaya menemui George Bush digambarkan oleh sutradara dengan sangat baik. Dalam perjalanannya melanglang buana, Khan sempat tinggal selama beberapa hari di sebuah kampung negro-kristen di Georgia. Perjalanannya berlanjut dan pada suatu kesempatan ketika ad airing-iringan mobl George Bush, Khan nekat berteriak: “My Name is Kan, and I’m not a terrorist!”. Kontan teriakan “terrorist” ini membuat ia menjadi pusat perhatian kamera dan pasukan pengamanan presiden. Khan akhirnya ditangkap, disiksa, diinterogasi dan dijebloskan ke penjara. Untungnya ada satu kantor berita muslim yang simpatik dengan Khan dan menuliskan bahwa ia sebenarnya tidak bersalah. Berita seputar Khan ini sampai juga ke telinga Mandira yang kemudian menolong Khan dan membebaskanya dari penjara.
Badai Katrina yang melanda Georgia menggerakkan Khan untuk menolong para korban, padahal bantuan dari pemerintah saja belum mencapai wilayah itu. Ia menolong para korban di rumah sakit, memperbaiki gereja, dan membantu pembangunan kembali daerah itu. Aksinya diliput oleh wartawan yang simpatik tadi. Akhirnya tindakan heroic ini diliput dan dibahas secara luas di media-media terkemuka di Amerika. Dalam sekejap Risvan Khan menjadi newsmaker.
Selama kurang lebih 1 jam pertama, alur cerita berjalan cukup lambat dan membosankan. Tipikal film India dengan nyanyian dan tarianya yang khas mewarnai 1 jam pertama tersebut. Alur berubah ketika mencapai pertengahan film dan memasuki inti cerita. Adalah peristiwa 9/11 yang kemudian memunculkan stigma anti Islam di seluruh penjuru Amerika. Pria berjenggot panjang ditangkap dan kemudian dipukuli, sementara yang lainnya memilih mencukur habis jenggotnya untuk menyamarkan identitas kemuslimannya. Seorang wanita rela melepas jilbabnya agar dapat terus bekerja. Hal senada juga melanda kelurga kecil Khan dan Mandira. Sameer Khan, anak mereka yang telah tumbuh remaja dihina, dan kemudian dipukuli hingga meninggal. Peristiwa tragis ini membuat Mandira menyalahkan Khan karena telah menikahinya dan menambahkan embel-embel Khan dibelakang nama Sameer. Akhirnya Khan meninggalkan rumah dan berjanji tidak akan pulang sampai ia berhasil menemui presiden Amerika dan berkata bahwa ia seorang muslim tapi bukan teroris.
Pada titik ini, film mulai berjalan menarik dan enak untuk diikuti. Cerita ketika Khan berkali-kali berupaya menemui George Bush digambarkan oleh sutradara dengan sangat baik. Dalam perjalanannya melanglang buana, Khan sempat tinggal selama beberapa hari di sebuah kampung negro-kristen di Georgia. Perjalanannya berlanjut dan pada suatu kesempatan ketika ad airing-iringan mobl George Bush, Khan nekat berteriak: “My Name is Kan, and I’m not a terrorist!”. Kontan teriakan “terrorist” ini membuat ia menjadi pusat perhatian kamera dan pasukan pengamanan presiden. Khan akhirnya ditangkap, disiksa, diinterogasi dan dijebloskan ke penjara. Untungnya ada satu kantor berita muslim yang simpatik dengan Khan dan menuliskan bahwa ia sebenarnya tidak bersalah. Berita seputar Khan ini sampai juga ke telinga Mandira yang kemudian menolong Khan dan membebaskanya dari penjara.
Badai Katrina yang melanda Georgia menggerakkan Khan untuk menolong para korban, padahal bantuan dari pemerintah saja belum mencapai wilayah itu. Ia menolong para korban di rumah sakit, memperbaiki gereja, dan membantu pembangunan kembali daerah itu. Aksinya diliput oleh wartawan yang simpatik tadi. Akhirnya tindakan heroic ini diliput dan dibahas secara luas di media-media terkemuka di Amerika. Dalam sekejap Risvan Khan menjadi newsmaker.
Film
ini mencapai klimaks ketika akhirnya Khan berhasil menemui Barack Obama, presiden
Amerika yang baru dan menyampaikan maksdunya. Yup, akhirnya pesan “My Name is
Khan and I’m not a terrorist” ini sampai secara langsung ke telinga presiden
Amerika.
Pesan Moral :
"Sering orang mengatakan "Don't judge the book from the Cover" kata - kata itu memang tepat, Khan yang mencari keadilan bahwa tidak semua orang islam/ berwajah islam adalah terorist, tekatnya ia yang dengan mengatakan pada president US
Browse » Home » All posts
[300]
Utusan
Kekaisaran Persia tiba di Sparta,
meminta Sparta tunduk pada raja Xerxes
Namun Leonidas raja Sparta, menolaknya dan membunuh semua utusan Persia.
Akibatnya Sparta harus berperang melawan Persia.
Leonidas
bersama 300 prajurit Sparta pergi menuju Thermophylae
dan berencana menahan pasukan Persia di sana, dalam perjalan kaum Arkadia ikut bergabung bersama mereka. Di Themophylae, Pasukan
Sparta berjuang mati-matian melawan pasukan Persia yang jumlahnya jauh lebih
banyak. Tapi, pada akhirnya, Leonidas bersama dengan 300 prajurit Sparta gugur
dalam peperangan terakhir,namun, sang raja menyuruh kepada kaptenya untuk
pulang ke kerajaan Sparta dan sang raja juga menitipkan pesan kepadanya, pesan
yang cukup sederhana "Ingatlah Alasan Kami Gugur". Selang beberapa
tahun, 10.000 ribu pasukan Sparta bersama dengan 30.000 pasukan Yunani yang
bebas menyerang kerajaan persia yang masih ada di Yunani.
Pesan Moral : "Tanggung jawab seorang pemimpin Leonidas terhadap rakyat spartan patutlah di contoh, pemimpin berani membela,mati,dan bertanggung jawab akan rakyatnya.."
Browse » Home » All posts
[Eat,Pray,Love]
Memasuki usia 30
tahun, Gilbert telah mendapatkan semua yang diinginkan oleh seorang wanita
Amerika modern, yaitu seorang pendamping hidup, rumah mewah, dan karier yang
cemerlang, namun, semua itu tak membuatnya bahagia. Gilbert yang ambisius
justru menjadi panik, sedih, dan bimbang menghadapi kehidupannya. Gilbert
merasakan pedihnya perceraian, depresi, kegagalan cinta, dan kehilangan
pegangan dalam hidupnya.
Untuk memulihkan
dirinya, Gilbert pun mengambil langkah yang cukup ekstrem. Dia meninggalkan
pekerjaan dan orang-orang yang dikasihinya untuk melakukan petualangan seorang
diri berkeliling dunia,bagi seorang perempuan yang berpenampilan menarik,
perjalanan solo ini jelas petualangan seru. Makan, doa, dan cinta adalah
catatan kejadian di bulan-bulan pencarian jati dirinya itu.
Dalam
petualangannya itu, Gilbert menetapkan tujuan ke tiga tempat berbeda. Di setiap
negara, ia meneliti aspek kehidupan dengan latar budayanya masing-masing, italia
menjadi tempat tujuan pertamanya. Di negeri yang elok ini, Gilbert mempelajari
seni menikmati hidup dan bahasa Italia. Tak lupa, ia juga mengumbar nafsu
makannya dengan menyantap aneka masakan Italia yang enak-enak. Wajar saja jika
kemudian bobot tubuhnya pun bertambah 12 kilogram.
Dari Italia,
Gilbert bertolak menuju India. Di negeri ini dia mempelajari seni devosi atau
penyerahan diri di sebuah Ashram atau padepokan Hindu. Ia menghabiskan waktu
empat bulan untuk mengeksplorasi sisi spiritualnya, akhirnya, Bali menjadi
tujuan terakhirnya. Di Pulau Dewata inilah wanita matang ini menemukan tujuan
hidupnya, yakni kehidupan yang seimbang antara kegembiraan duniawi dan
ketenangan batin.
Ia menjadi murid
seorang dukun tua bernama Ketut Liyer yang juga seorang pelukis dan peramal
lewat bacaan garis tangan. Gilbert juga bersahabat dengan Nyoman, penjual jamu
tradisional Bali, dan yang terpenting, di Bali, Gilbert yang sudah apatis dan
merasa tak akan pernah lagi bisa berhubungan romantis dengan lelaki mana pun,
akhirnya malah menemukan kembali cinta sejati pada diri Felipe, pria separuh
baya asal Brasil yang jauh lebih tua darinya.
Pesan Moral :
"On Progress"
Browse » Home » All posts
[The Pursuit of Happyness]
Cerita film ini dimulai pada tahun 1981 di San Francisco, California. Linda dan Chris Gardner hidup di sebuah apartemen
kecil bersama anak mereka yang berusia 5 tahun, Christopher. Chris adalah
seorang salesman yang menghabiskan seluruh tabungan keluarga untuk membeli franchise untuk menjual scanner tulang (Bone Density Scanner) portable.
Scanner ini memang mampu menghasilkan gambar lebih baik dari X-ray, tetapi
kebanyakan dokter yang ditemui Chris beranggapan bahwa harganya terlalu mahal.
Linda, istrinya, bekerja sebagai buruh di sebuah laundry. Keluarga kecil ini
mulai terpecah ketika mereka menyadari bahwa mereka tak mampu membayar sewa
rumah dan tagihan-tagihan yang semakin menumpuk. Keadaan diperparah oleh
kebiasaan Chris yang memarkir mobilnya sembarangan. Karena tak mampu membayar
surat tilang, mobil Chris akhirnya disita. Puncaknya, Linda pergi meninggalkan
Chris dan pergi ke New York City. Awalnya ia hendak membawa
serta Christopher, namun urung atas permintaan Chris.
Dalam keadaan putus asa, Chris tak sengaja
berjumpa dengan seseorang yang membawa Ferari warna merah. Chris bertanya
kepada orang itu, pekerjaan apa yang ia lakukan sehingga mampu membeli mobil
mewah? Orang tersebut menjawab bahwa ia adalah seorang pialang saham. Sejak saat itu Chris memutuskan untuk berkarier
sebagai pialang saham.
Chris menerima tawaran magang tanpa dibayar
di sebuah perusahaan pialang Dean Witter
Reynolds yang menjanjikan pekerjaan bagi peserta magang terbaik.
Dalam masa magang yang tak dibayar itu, Chris mulai kehabisan uang. Akhirnya ia
diusir dari rumah sewanya dan menjadi tuna wisma. Selama beberapa hari ia tidur di tempat-tempat
umum, namun kemudian ia memutuskan untuk tidur di rumah singgah Glide Memorial
Chruch. Karena keterbatasan tempat, mereka harus mengantri untuk
mendapatkan kamar. Kadang mereka berhasil, kadang gagal dan terpaksa tidur
diluar. Kemiskinan dan ke-tunawisma-an ini semakin mendorong tekad Chris untuk
menjalankan tugas dengan giat dan mendapatkan pekerjaan di Dean Witter
Reynolds.
Di akhir cerita, Chris berhasil menjadi
peserta terbaik dan diterima bekerja di sana. Beberapa tahun kemudian, ia
mendirikan perusahaan pialang sendiri, Gardner Rich.
Pada tahun 2006, ia menjual sebagian kecil sahamnya dan berhasil mendapatkan
jutaan dolar dari penjualan itu.
Pesan Moral :
"On Progress"
Pesan Moral :
"On Progress"
Browse » Home » All posts
[MY SASSY GIRL]
Charlie
Bellow adalah seorang mahasiswa pemalu yang secara kebetulan menyelamatkan
seorang gadis bernama Jordan Roark saat
ia sedang dalam perjalanan menggunakan kereta bawah tanah.
Pertemuan singkat
ini ternyata membekas cukup dalam di hati Charlie. Tanpa bisa dilawannya,
Charlie jatuh cinta pada gadis misterius yang baru dijumpainya ini. Kalau
Charlie termasuk orang yang 'stabil' Jordan justru sebaliknya. Sejak mengenal
Jordan, hidup Charlie jadi sedikit berantakan namun itu tak menyurutkan langkah
Charlie yang sudah terlanjur jatuh cinta.
Setelah
kencan beberapa kali, Jordan tiba-tiba mengatakan kalau ia harus pergi. Sebelum
pergi, Jordan meminta Charlie menulis surat lalu mereka berdua mengubur surat
mereka di bawah bonsai yang ada di Central Park. Surat ini baru akan mereka
baca setelah satu tahun lewat. Nyatanya, setahun telah berlalu namun Jordan tak
muncul di tempat yang telah ia janjikan.
Pesan Moral :
" Manusia dan cinta kasih tidak akan pernah bisa di pisahkan, walaupun kita berusaha untuk menghindarinya, cinta kasih bukan hanya cinta akan pasangan, namun kasih sayang yang di berikan orang sekitar kita lah yang paling besar "
Langganan:
Postingan (Atom)




